SEBUAH JANJI
Dulu, untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu, itulah pertama kalinya aku duduk sebagai murid SMU. Saat itu aku sama sekali tidak tahu ingin menjadi apa aku di masa depan nanti. Aku sama sekali tidak mempunyai mimpi atau cita-cita. Aku hanya menjalani kehidupan SMA ku dengan hal yang biasa-biasa saja. Belajar agar bisa mendapat nilai yang bagus agar aku tidak dimarahi oleh orangtuaku, selebihnya bermain-main dengan teman-temanku. Tidak ada minat atau ketertarikan khusus terhadap suatu hal, aku hanya mengikuti apa yang teman-temanku lakukan.
Baru setelah aku duduk di kelas 2 dan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi panutan bagiku. Seseorang yang selama ini tanpa disadari telah menuntunku untuk mencari jati diri dan impianku yang sebenarnya. Aku baru tahu, ingin menjadi apa aku di masa depan nanti,… cita-citaku, impianku.
Pertama kali aku melihat sosok yang aku kagumi ini, di siang hari yang sangat membosankan. Di saat itu aku merasa otakku sudah terlalu penuh untuk diisi lagi dengan pelajaran-pelajaran sekolah yang membosankan. Ia berdiri di depan kelas, berusaha menjelaskan kepada murid-muridnya tentang prosa dan bentuk karangan. Sama seperti yang lain, aku juga pada awalnya tidak memperhatikan penjelasan beliau. Waktu itu aku hanya memandang kosong ke arah papan tulis. Membiarkan pikiranku melayang keluar kelas. Tapi anehnya, menghadapi murid-murid yang mengabaikannya, beliau tersenyum sabar seperti menganggap bahwa yang sedang di hadapinya saat itu hanya bagian kecil dari resiko yang harus diterimanya sebagai pengajar.
Beliau bernama “Prambudi Yoseph”, biasanya dipanggil “Pak Yoseph”. Beliau mengajar Bahasa Indonesia di sekolahku, usianya kira-kira 47 tahun. Beliau adalah guru yang baik dan penyabar. Guru yang sebenarnya pantas diacungi jempol dan diberi penghargaan atas pengabdiannya. Hanya saja karena kesabaran dan kebaikannya, beliau sering dinilai tidak tegas, membuat murid-murid yang nakal dapat dengan seenaknya bolos dalam pelajarannya atau mengobrol di dalam kelas sementara beliau sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas.
Sama seperti yang lain, aku juga tidak begitu menyukai pelajaran yang diajarkannya. Bagiku mempelajari prosa dan puisi adalah tugas seorang pujangga, bukan tugas orang sepertiku yang tidak tertarik pada apa pun yang berbau sastra. Tapi pemikiranku mulai berubah sejak hari itu, hari di mana aku merasa benar-benar bodoh. Hari itu pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, aku yang luar biasa bosan mulai mengobrol dengan teman sebangkuku Nia. Dan tiba-tiba saja, di saat aku sedang asik mengobrol, Pak Yoseph memanggil namaku.
“Nurlaela, coba buat kalimat dengan kata ‘paralel’,” katanya, mata beliau memandang ramah ke arahku seperti biasanya.
Saat itu aku yang setengah kaget, hanya dapat membuat kalimat yang benar-benar konyol, yang membuat hampir setengah isi kelas tertawa. Tetapi tidak dengan Pak Yoseph, beliau sama sekali tidak tertawa. Beliau hanya menatapku dengan tatapan seperti seorang ayah yang kecewa pada putri kebanggaannya. Saat itu aku benar-benar menyesal, menyesal karena membuat beliau kecewa pada muridnya.
Sejak peristiwa itu, aku benar-benar takut berhadapan langsung dengan Pak Yoseph. Entah mengapa aku selalu merasa bersalah dan bodoh setiap kali melihat sorot mata beliau. Tadinya aku mengira perasaan seperti ini ada karena aku takut dan malu. Tapi aku ternyata salah, karena semakin hari perasaan itu terasa semakin berat menggelayut di hatiku. Tanpa kusadari pelan-pelan aku mulai merasa kagum pada Pak Yoseph. Tapi jangan salah sangka, kekagumanku ini bukan rasa kagum yang biasa terjadi antara guru dan murid yang pada akhirnya berujung pada ketertarikan lawan jenis. Rasa kagumku bukan seperti kekaguman sahabatku Nia pada guru Fisika yang muda dan tampan. Tapi aku kagum pada beliau karena beliau bisa membuat murid sepertiku merasakan perasaan seperti ini.
Dari situlah aku mulai memperhatikan pelajaran Bahasa Indonesia. Aku mulai berusaha untuk menyukai prosa, puisi dan menulis. Aku tidak ingin Pak Yoseph menilai diriku bodoh lagi. Setiap tugas yang diberikan oleh beliau pasti aku kerjakan dengan semaksimal mungkin. Maka tidak jarang aku mendapat nilai yang cukup bagus dalam pelajarannya. Lambat laun aku menyadari, aku mendapat nilai bagus dalam mengerjakan berbagai tugas yang menurut kebanyakan orang sulit. Bukan hanya karena aku ingin membuktikan diri, tapi karena aku benar-benar suka melakukannya.
Sejak itu aku menyadari bahwa aku suka menulis. Aku sudah tidak takut lagi berhadapan dengan Pak Yoseph, karena aku merasa sudah membuktikan diri bahwa aku bisa. Aku mulai berani bertukar pikiran dengan beliau, meminta pengarahan bagaimana caranya membuat sebuah tulisan yang baik. Beliau seperti sosok seorang ayah bagiku, pengganti sosok ayahku yang telah meninggal 10 tahun yang lalu. Beliau mengarahkanku untuk menemukan bakatku, beliau lah yang menggugahku untuk untuk terus menulis.
* * *
Setelah aku yakin benar menjadi seorang penulis adalah tujuan utamaku, aku mencoba menulis. Aku mulai menulis cerpen dan novel. Aku senang setiap kali aku datang ke kantor guru untuk menemui Pak Yoseph dan menyerahkan hasil tulisanku untuk dinilai oleh beliau. Aku senang menerima kritikannya, dan aku bangga menerima pujiannya. Walaupun teman-temanku kadang mengolok-olokku karena aku begitu mengagumi Pak Yoseph. Tapi aku tidak begitu peduli, yang jelas selama ia masih terus bersedia memberiku semangat dan membimbingku, selama itu pula aku kan terus mengagumi beliau. Bahkan mungkin hingga akhir hayatku…
Waktu berjalan begitu cepat, di saat aku mulai menyukai kehidupanku di sekolah, tanpa terasa tiba-tiba saja aku sudah duduk di kelas 3. Dan hanya tinggal satu minggu lagi acara perpisahan di gelar. Hari itu aku mendatangi Pak Yoseph di perpustakaan. Beliau memang sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku di salah satu sudut perpustakaan.
Aku mulai bicara pada Pak Yoseph, berusaha mengungkapkan rasa terimakasihku yang besar untuk beliau yang sudah begitu baik telah bersedia memberikanku semangat dan membimbingku selama ini. Tapi saat itu ia hanya tersenyum ramah seperti biasanya. Beliau sama sekali tidak menganggap ucapan terimakasihku sebagai sesuatu yang istimewa. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau untuk menanggapi luapan rasa terimakasihku saat itu hanya:
“Bapak cuma minta satu eksemplar buku hasil karya kamu kalau nanti buku tulisan kamu berhasil diterbitkan,”
Aku mengaguk pelan, saat itu aku merasa dengan angukanku itu berarti aku sudah membuat janji secara tidak langsung pada Pak Yoseph, bahwa aku harus membawa buku hasil tulisanku saat aku menemui beliau lagi.
* * *
Sudah hampir satu tahun aku lulus dari SMU, dan karena keterbatasan ekonomi keluargaku, aku tidak dapat melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi seperti teman-temanku yang lain. Tapi itu bukan masalah bagiku, tanpa kuliah pun aku masih bisa menulis. Novel pertamaku sudah kukirimkan ke beberapa penerbit, namun sayangnya mereka menolak tawaran naskah novel pertamaku itu. Aku sempat putus asa saat menerima kenyataan bahwa naskah pertamaku ditolak, tapi pada akhirnya aku sadar, tidak ada yang berjalan dengan mudah jika kita ingin mencapai sesuatu yang besar.
Aku kembali bangkit, aku kembali berusaha menulis novelku yang kedua. Sekali lagi aku mencoba mengirimkan novel keduaku ke penerbit. Selama menunggu kabar dari pihak penerbit, aku tinggal di Jakarta, aku diminta untuk menjadi guru pembimbing adik sepupuku selama ia menempuh ujian sekolah dasar. Memang bagiku yang terbiasa tinggal di kota sejuk seperti Bogor, awalnya amat tidak nyaman tinggal di kota sepanas Jakarta. Tapi apa boleh buat, apa lagi yang bisa aku lakukan selain menerima tawaran pamanku, untuk membimbing sepupuku dan menerima uang saku darinya. Lagipula disana ada komputer, yang tentunya akan memudahkanku untuk menyelesaikan tulisanku. Saat menunggu jawaban dari penerbit, untuk novel keduaku, aku juga menulis beberapa cerpen dan mengirimkannya ke majalah-majalah ternama di Jakarta. Alhamdulillah ada beberapa yang berhasil dimuat.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku menerima surat dari penerbit yang menyatakan bahwa mereka berminat untuk menerbitkan novelku. Tak bisa terbayangkan seperti apa bahagianya perasaanku saat itu. Aku merasa apa yang selama ini aku cita-citakan mulai tercapai. Setelah menyelesaikan masalah kontrak, beberapa bulan kemudian aku sudah bisa mengenggam novel hasil karyaku yang akan segera siap diedarkan di seluruh Indonesia.
Dengan perasaan bahagia aku kembali ke Bogor. Aku berjanji orang pertama yang akan kutemui setelah novelku terbit, adalah Pak Yoseph. Sudah lebih dari tiga tahun aku tidak bertemu Pak Yoseph. Aku tidak berani menemui beliau sebelum aku bisa memenuhi janjiku pada beliau. Maka, sekarang dengan penuh kebanggaan aku dapat menemuinya.
Aku mambawa novel hasil tulisanku dan hadiah kecil untuk Pak Yoseph. Aku melangkah mantap menyusuri gerbang sekolah almamaterku. Aku mencari sosok Pak Yoseph di ruang guru, tapi ruang guru pada saat itu sedang kosong, “Mungkin semua guru sedang mengajar,” pikirku saat itu.
Aku berinisiatif untuk menunggu Pak Yoseph di perpustakaan. Dan di perpustakaan aku bertemu dengan Pak Alan, penjaga perpustakaan yang juga teman baik Pak Yoseph. Dan dari Pak Alan lah aku menerima kabar buruk, kabar tentang Pak Yoseph yang menbuatku serasa membeku. Waktu itu Pak Alan mengatakan bahwa Pak Yoseph sudah meninggal dunia dua minggu yang lalu akibat penyakit diabetes yang sejak dulu telah diidapnya, di kampung halamannya di Solo.
Kakiku tiba-tiba lemas setalah mendengar kata-kata Pak Alan. Novel dan hadiah kecil untuk Pak Yoseph yang ku pegang, terlepas dari tangan ku. Aku benar-benar tidak percaya semua ini bisa terjadi. Kenapa Pak Yoseph harus meninggal di saat aku baru bisa menepati janjiku.
Sampai saat ini aku masih belum bisa percaya, dan tidak ingin percaya bahwa orang yang membuatku dapat mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang penulis, sudah tidak ada di dunia ini. aku merasa beliau tetap hidup dalam pikiranku, di dalam hatiku. Sebagai sosok yang selalu mendorongku untuk terus menulis.
Dan mulai saat ini aku berjanji, aku akan selalu menuliskan nama beliau di setiap buku yang kutulis, karena beliau adalah orang yang paling berjasa dalam perjalanan hidupku sebahi penulis sekarang. Dan aku yakin walupun beliau sudah tidak ada di dunia ini, beliau akan tetap membimbingku dari jauh.
* * *
“Untuk Pak Yoseph, guru terhebat, terbaik dan terbijaksana yang pernah aku temui,”
Semoga beliau mendapatkan tempat di sisi-Nya. Amin
“Bapak gw masih hidup”(ini Cuma kisah nyata yang di-mix sama fiksi dikit)
it’s me
salam kenal nih… nama saya ‘Suketi’ dari telaga angker hi…hi…hi. ( gimana udah mirip sama Tante Sun nggak, a.k.a alm. Susana) soal gua masih ada hubungan sama Tante Sun, gua itu keponakan dari cucunya orang yang pernah ketemu ama Susana di Mall. he…he. sekarang seri nih. nama gua ‘Nurlaela Badaria’ biasa dipanggil ‘Nur’ sama temen-temen gua, tapi keluarga gua biasa panggil gua ‘Ria’. gua emang agak kurang punya kepastian kalau soal nama, gua bisa dipanggil ‘Ria’ bisa dipanggil ‘Nur’ at bisa dipanggil ‘Nurdin’ kalau malem… ya udah lah nggak penting bahas soal nama, yang penting nama gua kaga ada didaftar orang-orang bermasalah di kantor Polisi. seperti kata salah satu pujangga penting Dunia, ” apa artinyasebuah nama.” (William shakepeare bukan yang bilang begitu… kalau bukan sorry udah nuduh sembarangan).
lanjut soal ngenalin diri, umur gua masih 24 tahun (masih brondong kalau kata Om” umur 60 keatas). tapi itu ntar tanggal 26 Desember, sebenernya sih tanggal 25 Desember, jam 10 malem. tapi gara-gara ibu gua ngga rela gua jadi orang ngetop lantaran ntar ulang tahun gua bakal dirayain banyak orang di seluruh dunia nantinya, dia bo’ong deh sama orang kelurahan, bilang kalau gua lahir tanggal 26 Desember. jadi deh tanggal 26 Desember ditulis di akte lahir gua, di Ijazah sekolah sampe KTP gua… “tapi udah lah apa artinya sebuah tanggal.” ( kali ini asli gua yang buat petuah).
sekarang gua tinggal di pedalaman Bogor, disebuah Desa yang namanya keren bangat dah ‘Cihideung’ kalau dibahasa Indonesiain sih ‘air hitam’ kalau dibahasa Inggris dibilang ‘Water Black’. jadi biasanya kalau gua ditanya orang tinggal dimana, biar keren biasanya gua bilang, gua tinggal di ‘Water Black City’ . sebenernya sih Ibu sama Bapak gua orang Betawi, cuma gara-gara Bapak gua di Import ngurusin perikanan di Bogor, jadi deh gua tinggal di Bogor dari umur satu tahun.
gua ini orangnya imut” sampe beda tipis sama amit”. buat gambaran aja, banyak orang bilang muka gua mirip-mirip sama Laudya cyntia Bella atau Bunga Citra Lestari, 11-12 lah, (aduh ada yang nyambit kepala gua pake sepatu)… iya dah gua ngaku, gua ngga mirip sama mereka berdua, tapi gua mirip sama Tamara Blezinky. (kurang ajar… ada yang nyambit gua lagi, sekarang pake selop… ayo deh tempong lagi, tapi kali ini pake duit gepokan ya!) sampe kapan sih loe semua pada nerima kalau gua itu secantik Miss Universe. (“nggak akan pernah”… orang-orang sirik pada teriakin gua).
sekarang soal profesi, kalau ngomongin soal kerjaan, gua juga sebenernya bingung kerjaan gua apa, pemerintah sih taunya gua penganguran, karena waktu gua bikin KTP gua masih terhitung Pengacara ( penganguran kaga ada acara). tapi sebenernya jelek-jelek gini gua ini penulis, walaupun baru satu Buku yang diterbitin ( Novel gua judulnya ‘Fortunata’ terbitan Gramedia… beli ya! sekalian promosi). disamping jadi penulis amatiran, gua juga punya usah Kreditan bareng temen gua, omsetnya udah lumayan buat jajan baso he…he. (nanti kalau ada yang mau kredit barang, tinggal sebut aja mau barang apa, ntar kita proses… promosi lagi aja).
udah ah segitu aja dulu, ntar kalau mau pada tau lebih banyak soal gua, tungguin aja buku Biografi gua ye! ( Howek… lah kok pada muntah, masuk angin ya?)… kalau ada sumur diladang, nanti gua numpang mandi, terus nulis lagi… see u.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!